Sawah yang kekeringan akan mendapat kompensasi kerugian
July 31, 2006 at 4:08 am 1 comment
![]()
Rapat Koordinasi Perberasan memutuskan akan memberikan ganti rugi kepada petani yang sawahnya kekeringan. Dana pengganti itu akan diambil dari dana tanggap darurat dengan total sebesar Rp 4,3 miliar. Demikian dilaporkan oleh Kantor Berita Nasional Antara tanggal 10 Juli 2006.
Rapat juga memutuskan tidak ada impor beras sampai akhir Desember 2006. Hadir dalam Rakor yang diadakan di Kantor Menteri Perekonomian itu antara lain Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian dan Dirut Perum Bulog. “Mengenai kekeringan Mentan sudah punya program.
Ada suatu mekanisme untuk memberi kompensasi dengan mekanisme dan persyaratan yang ketat untuk memastikan yang menerima adalah yang mengalami kekeringan,” jelas Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurti usai Rakor. Sementara itu, Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan bahwa berdasarkan data dan prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), kemarau saat ini termasuk kategori normal dengan curah hujan yang normal.
“Yang terjadi petani memaksakan menanam padi pada musim kemarau terutama di sawah-sawah tadah hujan. Itu melegakan kami artinya prediksi produksi padi belum terganggu,” katanya.Mengenai mekanisme pemberian kompensasi, lanjut dia, pemerintah daerah nanti mengajukan data kekeringan dan kelompok taninya. Setelah itu, data yang ada diverifikasi untuk pemberian bantuan.Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan Nasional yang diketuai oleh Kaman Nainggolan ada 10 provinsi yang mengalami kekeringan antara Januari – Juni 2006, dengan total luas lahan yang terkena dampak 33.197 hektar dan 420 hektar mengalami puso (gagal panen).
Kesepuluh provinsi itu adalah NAD (16.215 hektar kekeringan dan 172 hektar puso), Sulawesi Selatan (5.507 hektar kekeringan dan 160 puso), Jawa Barat (4.413 hektar kekeringan dan 12 hektar puso), NTB (3.476 kekeringan), Sumatera Utara (2.227 hektar), Jawa Tengah (929 hektar kekeringan dan 4 hektar puso), Lampung (200 hektar dan 24 hektar puso), NTT (165 hektar kekeringan dan 48 hektar puso), Banten (55 hektar kekeringan) dan Sumatera Barat (10 hektar kekeringan).
Kaman menjelaskan menurut angka ramalan II Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi tahun 2006 akan mencapai 54,75 juta ton gabah kering panen (GKP) yang setara dengan sekitar 31 juta ton beras.“Masih ada surplus 110 ribu ton beras di akhir tahun ini,” ujarnya.
Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo mengatakan stok Bulog saat ini mencapai 1,3 juta ton dan di akhir tahun stok Bulog akan sekitar 572 ribu ton saja.
Entry filed under: Tanaman Pangan. Tags: .
1.
na_raka | June 15, 2010 at 8:56 am
he’eh2…..