BUDIDAYA BAWANG MERAH ASAL BIJI

Sampai saat ini petani bawang merah di Daerah Istimewa Yogyakarta selalu menggunakan umbi bibit sebagai bahan tanaman. Bibit yang berasal dari umbi, daya hasilnya relatif tidak berubah dengan bergantinya waktu. Peningkatan daya hasil hanya bisa dilakukan melalui perbaikan kultur teknis, dan suatu ketika produksi bawang merah akan mengalami penurunan.
Untuk meningkatkan produktivitas bawang merah selain perbaikan kultur teknis, petani perlu dikenalkan varietas unggul “TUK-TUK” yang dapat ditanam melalui biji. Ciri-ciri bawang merah ini antara lain bentuk umbi bulat, ukuran seperti bawang merah lokal Philipina, warna umbi merah muda sampai kecoklatan.
Bawang ini dapat ditanam di dataran rendah maupun dataran tinggi, dengan suhu optimal 25 – 32 derajat celcius, tanah yang cocok adalah tanah yang aerasinya baik, subur, gembur, mempunyai bahan organik tinggi, sedang pH tanah berkisar 5,5-6,5. Adapun cara bercocok tanamnya sebagai berikut :

CARA BERCOCOK TANAM
Persemaian
Benih atau biji sebaiknya disemai pada lahan terbuka agar tumbuh dengan baik, caranya:
1. Buat bedengan dengan lebar 1m, tinggi 40cm-50cm, dan panjang menyesuaikan lahan yang tersedia.
2. Usahakan jarak antar bedengan 40-50 cm.
3. Campur tanah bedengan dengan pupuk kandang 2 Kg/m2 dan kapur pertanian sebanyak 150-200g/m2,
4. Ratakan kembali bedengan tersebut,
5. Taburi bedengan dengan sekam padi setebal 9-10 cm.
6. Bakar sekam padi selanjutnya dibiarkan selama 1 hari.
7. Ratakan bedengan, beri pupuk dasar KCI:50g/m2; SP-36:50g/m2 dan bahan aktif karbofuran 5g/m2,
8. Buat alur melintang dengan jarak antara alur 5-10cm dan kedalaman 1 cm.
9. Taburkan biji bawang merah pada alur tersebut sebanyak 150-200 biji/alur, kemudian tutup alur dengan tanah.
10. Lakukan penyiraman secara rutin dan hati-hati untuk menjaga kelembaban;
11. Kecambah akan muncul 5-10 HSS (Hari Setelah Semai);
12. Bila musim hujan sebaiknya bedengan ditutp dengan sungkup plastik selama 3-4 minggu.

Penanaman
1. Buat bedengan yang sama baik ukuran maupun perlakuannya seperti bedengan pesemaian, kemudian diari sampai basah.
2. Buat lubang tanam dengan jarak dalam barisan 5cm-10cm dan jarak antar barisan 10cm;
3. Usahakan baris tanaman dibuat memotong bedengan untuk memudahkan penyiangan;
4. Tanam bibit yang telah berumur 6 minggu setelah semai dengan memasukkan bibit kedalam lubang tanam satu lubang satu bibit;
5. Tekan tanah disekitarnya dengan lembut supaya akarnya menyatu dengan tanah.

PEMELIHARAAN
Penyiraman
Ada dua jenis penyiraman

May 13, 2008 at 4:55 am 23 comments

Budidaya Tomat Diluar Musim

TOMAT

Tomat
1. Pendahuluan

Budidaya Tomat ( Licopersicum esculentum L.) dilakukan secara musiman (seasonal) sehingga produksi maupun harga sangat berfluktuasi sepanjang tahun. Biasanya dilakukan pada awal musim kemarau sehingga pada musim penghujan akan terjadi penurunan produksi.

Untuk mencegah terjadinya fluktuasi produksi dan harga yang sering merugikan petani, perlu diupayakan menerapkan budidaya yang berlangsung sepanjang tahun, antara lain melalui budidaya diluar musim (off season). Dengan melakukan budidaya diluar musaim dan membatasi produksi pada saat bertanam normal diharapkan produksi dan harga tomat dopasar akan lebih stabil.

2. Varietas

Varietas yang banyak beredar dan dibudidayakan di Indonesia adalah : Ratna, Intan, Arthaloka, Bonanza, Mahkota, dll.

3. Teknologi Budidaya

a. Pembibitan
b. Penyiapan Lahan dan Penanaman
c. Pemupukan
d. Pemasangan Lanjaran
e. Pemasangan Mulsa

To be continued (Berlanjut……nanti)

October 7, 2006 at 5:00 am 9 comments

Budidaya Bawang Merah Di Luar Musim

Bawang Merah

1. Pendahuluan
Bawang merah ( Allium ascalonicum) merupakan komoditas hortikultura yang memiliki banyak manfaat dan bernilai ekonomis tinggi serta mempunyai prospek pasar yang menarik. Selama ini budidaya bawang merah diusahakan secara musiman (seasonal), yang pada umumnya dilakukan pada musim kemarau (April-Oktober), sehingga mengakakibatkan produksi dan harganya berfluktuasi sepanjang tahun.

Untuk mencegah terjadinya fluktuasi produksi dan fluktuasi harga yang sering merugikan petani, maka perlu diupayakan budidaya yang dapat berlangsung sepanjang tahun antara lain melalui budidaya di luar musim (off season). Dengan melakukan budidaya di luar musim dan membatasi produksi pada saat bertanam normal sesuai dengan permintaan pasar, diharapkan produksi dan harga bawang merah dipasar akan lebih stabil.

2. Syarat Tumbuh
Bawang Merah menyukai daerah yang beriklim kering dengan suhu agak panas dan mendapat sinar matahari lebih dari 12 jam. Bawang merah dapat tumbuh baik didataran rendah maupun dataran tinggi (0-900 mdpl) dengan curah hujan 300 – 2500 mm/th dan suhunya 25 derajat celcius – 32 derajat celcius. Jenis tanah yang baik untuk budidaya bawang merah adalah regosol, grumosol, latosol, dan aluvial, dengan pH 5.5 – 7.

3. Benih
Penggunaan Benih bermutu merupakan syarat mutlak dalam budidaya bawang merah. Varietas bawang merah yang dapat digunakan adalah Bima, Brebes, Ampenan, Medan, Keling, Maja Cipanas, Sumenep, Kuning, Timor, Lampung, Banteng dan varietas lokal lainnya. Tanaman biasanya dipanen cukup tua antara 60 -80 hari, telah diseleksi dilapangan dan ditempat penyimpanan. Umbi yang digunakan untuk benih adalah berukuran sedang, berdiameter 1,5 – 2 cm dengan bentuk simetris dan telah disimpan 2-4 bulan, warna umbi untuk lebih mengkilap, bebas dari organisme penganggu tanaman.

4. Penyiapan Lahan
Pengolahan tanah dilakukan pada saat tidak hujan 2 – 4 minggu sebelum tanam, untuk menggemburkan tanah dan memberik sirkulasi udara dalam tanah. Tanah dicangkul sedalam 40 cm. Budidaya dilakukan pada bedengan yang telah disiapkan dengan lebar 100-200 cm, dan panjang sesuai kebutuhan. Jarak antara bedengan 20-40 cm.

5. Penanaman
Penanaman dilakukan pada akhir musim hujan, dengan jarak tanam 10-20 cm x 20 cm. Cara penanamannya; kulit pembalut umbi dikupas terlebih dahulu dan dipisahkan siung-siungnya. Untuk mempercepat keluarnya tunas, sebelum ditanam bibit tersebut dipotong ujungnya hingga 1/3 bagian. Bibit ditanam berdiri diatas bedengan sampai permukaan irisan tertutup oleh lapisan tanah yang tipis.

6. Pemeliharaan
a. Penyiraman dapat menggunakan gembor atau sprinkler, atau dengan cara menggenangi air disekitar bedengan yang disebut sistem leb. Pengairan dilakukan secara teratur sesuai dengan keperluan tanaman, terutama jika tidak ada hujan.

b. Pemupukan : Pupuk yang diberikan adalah pupuk kandang, dengan dosis 10 ton/ha, pupuk buatan dengan dosis urea 100 kg/Ha, ZA 200 kg/Ha, TSP/SP-36 250 kg/ha. KCI 150 kg/ha (sesuai dengan kesuburan tanah)

c. Penyulaman, dilakukan apabila dilapangan dijumpai tanaman yang mati. Biasanya dilakukan paling lambat 2 minggu setelah tanam.

d. Pembumbunan dan penyiangan, dilakukan bersamaan pada saat tanaman berumur 21 hari.

e. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada serangan hama dan penyakit. Hama yang menyerah tanaman bawang merah adalah ulat tanah, ulat daun, ulat grayak, kutu daun dan Nematoda Akar.

Pengendalian Hama dilakukan dengan cara:
– Sanitasi dan pembuangan gulma
– Pengumpulan larva dan memusnahkan
– Pengolahan lahan untuk membongkar persembunyian ulat
– Penggunaan Insektisida
– Rotasi Tanaman

Penyakit yang sering menyerang bawang merah adalh Bercak Ungu, Embun Tepung, Busuk Leher Batang, Antraknose, Busuk Umbi, Layu Fusarium dan Busuk Basah.

Pengendalian penyakit dilakukan dengan cara:
– Sanitasi dan pembakaran sisa tanaman yang sakit
– Penggunaan benih yang sehat
– Penggunaan fungisida yang efektif

7. Panen
Panen dilakukan bila umbi sudah cukup umur sekitar 60 HST, ditandai daun mulai menguning, caranya mencabut seluruh tanaman dengan hati-hati supaya tidak ada umbi yang tertinggal atau lecet. Untuk 1 (satu) hektar pertanaman bawang merah yang diusahakan secara baik dapat dihasilkan 10-15 ton.

8. Pasca Panen
a. Pengeringan umbi dilakukan dengan cara dihamparkan merata diatas tikar atau digantung diatas para-para. Dalam keadaan cukup panas biasanya memakan waktu 4-7 hari. Bawang merah yang sudah agak kering diikat dalam bentuk ikatan.Proses pengeringan dihentikan apabila umbi telah mengkilap, lebih merah, leher umbi tampak keras dan bila terkena sentuhan terdengar gemerisik.

b. Sortasi dilakukan setalh proses pengeringan

c. Ikatan bawang merah dapat disimpan dalam rak penyimpanan atau digantung dengan kadar air 80 (persen) – 85 (persen), ruang penyimpnan harus bersih, aerasi cukup baik, dan harus khusus tidak dicampur dengan komoditas lain.

Artikel ini diambil dari Leaflet Dirjen Bina Produksi Hortikutura,2001

October 7, 2006 at 4:17 am 37 comments

Presiden Akan Bentuk Tim Koordinasi Pengembangan Bioenergi

  

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membentuk tim nasional yang bertugas menjalankan cetak biru kebijakan pengembangan bioenergi. Demikian dilaporkan oleh Kantor Berita Nasional Antara tanggal 3 Juli 2006 dari Magelang, Jawa Tengah.

“Hasil dari rapat ini diharapkan melahirkan kebijakan-kebijakan pengembangan bioenergi. Kita akan susun tim nasional yang akan mengkoordinasikan dan menindaklanjuti rapat malam ini,”kata Presiden saat membuka rapat terbatas soal bioenergi di Desa Grabag, Magelang,Jawa Tengah, hari Sabtu malam tanggal 1 Juli 2006.Menurut presiden, pengembangan bioenergi sebagai energi alternatif sangat diperlukan sebagai bagian kebijakan pemerintah untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat.   

“Meski hari Sabtu dan Minggu hari libur, kita mengemban amanah mulia untuk memusatkan pikiran, kepedulian dan komitmen untuk bersama menyusun kebijakan dan aksi nasional yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat,”kata Presiden.   

Presiden menyebutkan rapat yang akan berlangsung dua hari ini meskipun dilakukan tanpa terlalu formal, namun membahas permasalahan yang sangat substansial.Dalam rapat malam ini, Presiden akan memaparkan pandangan dan arahannya untuk meningkatkan perekonomian dengan pengembangan bioenergi dengan tema “Post Crisis New Deal And Bio-energi Action Plan.  

Kemudian akan dilanjutkan paparan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengenai kebijakan nasional di bidang energi.Selanjutnya pada Minggu pagi setelah berolahraga jalan kaki di kebun kopi, agenda rapat disambung dengan paparan oleh Menristek Kusmayanto Kadiman dan Meneg BUMN Sugiharto mengenai koordinasi pengembangan bioenergi.

Setelah makan siang, rapat diteruskan dengan penyusunan cetak biru atau road map yang berisi rencana kerja pengembangan bioenergi dikaitkan dengan percepatan penciptaan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan. Hadir dalam rapat itu Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menko Perekonomian Boediono, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Mendagri Mohammad Ma’ruf, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Menhut MS Kaban, Meneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali, Meneg Pembangunan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf dan Meneg Perencanaan Pembangunan Nasional Paskah Suzetta.Hadir juga sejumlah pejabat BUMN seperti Dirut Bank Mandiri Agus Martowardoyo, Dirut BTN Kodradi, Dirut BRI Sofyan Basyir dan Kepala BPS Rusman Heriawan.Turut hadir sejumlah kepala daerah yaitu Gubernur Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumsel, Bengkulu dan NTB.

Kepala BPS Rusman Heriawan di tempat tersebut mengatakan pengembangan bioenergi harus meliputi sisi produksi, konsumsi dan distribusi.Untuk sisi produksi pengembangannya harus melihat kemampuan untuk mengadopsi teknologi pembuatan bioenergi.Sementara dari sisi konsumsi, harus disiapkan perubahan perilaku masyarakat dari kebiasaan mengkonsumsi BBM konvensional menjadi konsumsi bioenergi.“Harus diperhitungkan waktu transisi mengubah perilaku masyarakat dari konsumsi BBM ke energi yang baru.

Ini membutuhkan pilot project sebelum menjadi program nasional,” katanya.Sedangkan sisi distribusi juga harus dipikirkan, karena tanpa distribusi bioenergi yang lancar, masyarakat akan enggan untuk mengkonsumsinya.(Tim IFA, July 2006)

July 31, 2006 at 4:24 am Leave a comment

Sawah yang kekeringan akan mendapat kompensasi kerugian

sawah.jpg
Rapat Koordinasi Perberasan memutuskan akan memberikan ganti rugi kepada petani yang sawahnya kekeringan. Dana pengganti itu akan diambil dari dana tanggap darurat dengan total sebesar Rp 4,3 miliar. Demikian dilaporkan oleh Kantor Berita Nasional Antara tanggal 10 Juli 2006.

Rapat juga memutuskan tidak ada impor beras sampai akhir Desember 2006. Hadir dalam Rakor yang diadakan di Kantor Menteri Perekonomian itu antara lain Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian dan Dirut Perum Bulog. “Mengenai kekeringan Mentan sudah punya program.


Ada suatu mekanisme untuk memberi kompensasi dengan mekanisme dan persyaratan yang ketat untuk memastikan yang menerima adalah yang mengalami kekeringan,” jelas Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurti usai Rakor.
Sementara itu, Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan bahwa berdasarkan data dan prediksi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), kemarau saat ini termasuk kategori normal dengan curah hujan yang normal.

“Yang terjadi petani memaksakan menanam padi pada musim kemarau terutama di sawah-sawah tadah hujan. Itu melegakan kami artinya prediksi produksi padi belum terganggu,” katanya.Mengenai mekanisme pemberian kompensasi, lanjut dia, pemerintah daerah nanti mengajukan data kekeringan dan kelompok taninya. Setelah itu, data yang ada diverifikasi untuk pemberian bantuan.Berdasarkan data dari Badan Ketahanan Pangan Nasional yang diketuai oleh Kaman Nainggolan ada 10 provinsi yang mengalami kekeringan antara Januari – Juni 2006, dengan total luas lahan yang terkena dampak 33.197 hektar dan 420 hektar mengalami puso (gagal panen).

Kesepuluh provinsi itu adalah NAD (16.215 hektar kekeringan dan 172 hektar puso), Sulawesi Selatan (5.507 hektar kekeringan dan 160 puso), Jawa Barat (4.413 hektar kekeringan dan 12 hektar puso), NTB (3.476 kekeringan), Sumatera Utara (2.227 hektar), Jawa Tengah (929 hektar kekeringan dan 4 hektar puso), Lampung (200 hektar dan 24 hektar puso), NTT (165 hektar kekeringan dan 48 hektar puso), Banten (55 hektar kekeringan) dan Sumatera Barat (10 hektar kekeringan).

Kaman menjelaskan menurut angka ramalan II Badan Pusat Statistik (BPS) produksi padi tahun 2006 akan mencapai 54,75 juta ton gabah kering panen (GKP) yang setara dengan sekitar 31 juta ton beras.“Masih ada surplus 110 ribu ton beras di akhir tahun ini,” ujarnya.

Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo mengatakan stok Bulog saat ini mencapai 1,3 juta ton dan di akhir tahun stok Bulog akan sekitar 572 ribu ton saja.

July 31, 2006 at 4:08 am 1 comment

Mentan : Program Akselerasi bisa wujudkan swasembada gula 2009

Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono mengatakan, swasembada gula bisa dicapai Indonesia pada tahun 2009 bila program-program akselerasi di tingkat petani tebu bisa berjalan dengan baik, termasuk merevitalisasi pabrik-pabrik gula.”Kalau (program) ini dilakukan semua, Insya Allah saya yakin dengan investasi baru yang masuk maka swasembada gula bisa tercapai (tahun 2009). Tahun 2008 kita masih sekian persen perlu impor, tapi 2009 sudah tidak perlu mengimpor lagi,” katanya kepada pers usai menutup Musyawarah Nasional (Munas) II Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di Ciawi Kabupaten Bogor, Jumat sore.

Ia mengatakan, upaya-upaya untuk dapat menuju swasembada gula itu antara lain, pertama: program akselerasi di tingkat petani terus dijalankan, karena kuncinya adalah menyediakan modal bagi petani. “Masalahnya hanya tinggal petani itu memerlukan modal, di samping juga bibit unggul, ini yang akan kita sediakan dari pemerintah dan sekarang sudah terbukti dan bahkan bisa dikatakan produksi petani melimpah dan justru pabrik gula keteteran,” katanya.

Akibatnya, banyak produksi tebu tidak tertampung oleh pabrik gula. “Saya tadi sudah mendapat laporan ada beberapa pabrik gula yang masih harus menjalani giling, mesti seharusnya giling sudah lewat,” katanya. Program kedua, kata Mentan, adalah revitalisasi pabrik gula itu sendiri, dan apabila hal itu kurang berhasil maka terpaksa harus mendirikan pabrik gula baru.

“Nah, yang terpenting dari itu semua adalah mesti ada investasi baru, dalam rangka itulah kemudian akan dilakukan studi kelayakan, dan ini kerjasama antara pemerintah RI dan RRC,” katanya. Studi kelayakan itu, katanya, adalah untuk mengetahui di lokasi-lokasi mana saja di Indonesia yang layak untuk dibangun industri gula yang baru termasuk perkebunannya. “Dengan upaya-upaya inilah, maka swasembada gula akan bisa dicapai,” katanya.

Ketika ditanya mengenai masih adanya kendala-kendala yang dihadapi petani tebu mengenai problem kelangkaan pupuk, ia mengatakan bahwa soal tersebut akan mendapat penanganan tersendiri. “Untuk masalah pupuk, nanti akan kita selesaikan sendiri,” katanya. Menurut dia, kelangkaan pupuk itu memang diakui selalu terjadi, namun ada masalah-masalah yang melingkupinya sehingga terjadi kondisi kelangkaan itu.”Tadi (dalam Munas I APTRI) saya jelaskan masalah-masalah (kelangkaan) yang terjadi pada pupuk,” katanya.

Diantaranya, kata dia, karena memang ada yang menyelundupkan keluar negeri, ada yang menggunakan pupuk bersubsidi untuk perkebunan besar yang bukan seharusnya, dan ada pula kesalahan di dalam memakai pupuk, misalya saja penggunaan yang berlebih atau seperti jenis pupuk SP-36 yang sebetulnya tidak diperlukan untuk padi, tapi justru digunakan.

Sementara itu, saat ditanya mengenai apakah jika swasembada gula bisa dicapai pada tahun 2009 berarti sama sekali tidak akan ada lagi impor gula, Mentan menegaskan bahwa swasembada itu bukan berarti tidak ada impor sama sekali. “Dari definisi swasembada sebetulnya, katakanlah kalau ada ketergantungan 10 persen dari luar negeri, itu sudah bisa dikatakan swasembada. Tapi kita menginginkan memang tidak ada impor sama sekali dan itu Insya Allah bisa dicapai 2009,” kata Anton Apriantono.

Harga bagus
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional APTRI masa bakti 2005-2010 yang baru terpilih pada Munas II di Ciawi, yakni H Abdul Wahid, ketika ditanya apa problem yang dihadapi petani, dijelaskan bahwa kalau beberapa tahun lalu, problem yang dihadapi menyangkut harga gula, pupuk, rendemen dan menyangkut bahan baku.

“Namun, dalam dua tahun terakhir ini sudah terbentuk harga gula yang cukup baik setelah lahirnya SK Mentan Nomor 643, dimana ada batasan impor dan sekaligus harga. Ini juga akibat dampak harga internasional yang juga tinggi, sehingga yang terjadi sekarang ini harga sudah bagus,” katanya.

Diakuinya bahwa pemerintah juga sudah mengucurkan bantuan dana akselerasi yang jumlahnya Rp350 miliar, tapi baru diterima Rp170 miliar namun dampak ini sudah cukup membantu peningkatan produksi. “Katakanlah kalau tahun 2001-2002 produksi gula hanya sekitar 1,6 juta ton per tahun, pada tahun 2005 kita sudah mampu memproduksi 2,2 juta ton per tahun, ini suatu peningkatan yang baik,” katanya.

Selain itu, katanya, dengan program akselerasi juga ada peningkatan dengan varietas-varietas baru, sehingga terjadi peningkatan produktivitas, yang tidak hanya kuintal tebu tapi juga kristal gula. “Yang dulu rendemen hanya sekitar 4 dan 5 persen, sekarang ini sudah 7 dan bahkan ada yang 8 persen, dan ada satu-dua yang rendemen 9 persen,” katanya.

Kondisi tersebut, katanya, tercapai karena suatu akselerasi dan hasil dari itu dampaknya adalah mampu menghasilkan produksi gula yang bagus, sehingga justru timbul masalah yang baru dimana petani sudah siap dengan akselerasi tapi pabrik gulanya kurang siap. “Nah, kita terbentur masalah ini sehingga perlu adanya akselerasi pabrik gula oleh pemerintah,” katanya.

Menjawab pertanyaan apakah hal itu berarti harus ada pembangunan pabrik gula baru, Abdul Wahid mengatakan bahwa hal itu bisa pembangunan baru, tapi juga bisa juga peningkatan kapasitas. Ia memberi contoh, masalah seperti itu terjadi pada petani yang ada di PTPN X di Gempolkerep-Mojokerto (Jatim), Malang Selatan, dan juga yang ada di sekitar Lumajang (Jatim).”Mestinya para petani di tiga tempat itu sudah turun ke kebun untuk menanam tebu dan pupuk, tapi sekarang ini masih giling, dan diperkirakan sampai 25 Desember 2005 baru selesai, ini kan sudah tidak efektif,” katanya.

“Kalau dampak dan situasi ini tidak ada solusinya untuk peningkatan kapasitas dan tambahan pabrik gula baru lagi, maka tahun 2006 saya khawatir giling nanti akan sampai Januari, ini kan sudah tidak benar,” tambahnya. Oleh karena itu, kata dia, dari sisi Deptan sudah berupaya dengan bantuan dana akselerasi, sehingga dari Kantor Meneg BUMN seharusnya sudah menyiapkan untuk revitalisasi pabrik gula.

Abdul Wahid menjelaskan, jumlah petani tebu di Indonesia efektifnya saat ini berjumlah 2 juta orang, namun bila ditambah dengan keluarganya mencapai 8 juta orang.  Sementara itu, kebutuhan gula nasional berjumlah 3,4 juta ton per tahun, dimana yang 700 ribu ton adalah untuk kebutuhan industri (gula rafinasi), sedangkan yang bisa diproduksi di dalam negeri sebanyak 2,2 juta ton, sehingga sisanya yang 500 ribu ton masih harus diimpor.

July 31, 2006 at 3:52 am Leave a comment

Cina Fokuskan Penelitiannya terhadap Kualitas dan Nutrisi Tanaman Padi

Cina, produsen beras terbesar di dunia, mengumumkan telah meluncurkan upaya penelitian baru untuk meningkatkan kualitas varitas padinya dan meningkatkan kandungan nutrisinya, demikian siaran pers Institut Penelitian Padi Internasional (IRRI), pekan lalu.

Pemerintah Cina dan IRRI pekan lalu di meresmikan Pusat Kualitas dan Nutrisi Beras (Rice Quality and Nutrition Center) di Institut Penelitian Beras Nasional Cina (CNRRI) di Hangzhou. Pusat Kualitas dan Nutrisi Beras ini akan bekerja erat dengan Pusat Penelitian Kualitas dan Nutrisi Beras yang diresmikan tahun lalu di IRRI.

“Kualitas dan nutrisi adalah dua bidang penelitian beras yang paling menantang,”

kata Robert S Zeigle, Direktur Jenderal IRRI, dalam acara peresmian pusat baru itu. “Bukan hanya memiliki piranti dan pengetahuan sains saja untuk mendapatkan beras varitas baru berkualitas tinggi, tetapi kami juga sekarang berupaya meningkatkan nilai nutrisi dari varitas-varitas ini dengan menambahkan nutrisi seperti besi, seng, dan vitamin A.”

Dr. Zeigler mengatakan IRRI tersanjung dan mendapat kehormatan bekerja sama dengan CNRRI dalam penelitian baru yang penting. “Kami tetap terus harus memfokuskan penelitian untuk meningkatkan produktivitas beras untuk mengejar pertumbuhan penduduk, sementara penduduk Cina semakin meningkat kemakmurannya, kualitas dan nutrisi makanan jelas akan menjadi prioritas.”

Ia menekankan bahwa meningkatkan kualitas biji-bijian juga akan mendorong harga beras di pasar dan berarti membantu petani Cina meningkatkan pendapatan mereka.

Pusat Kualitas dan Nutrisi Beras di CNRRI mendapat dukungan Kementerian Pertanian Cina dan Akademi Ilmu Pertanian Cina. Peresmian itu adalah bagian dari Pertemuan Rencan Kerja IRRI-Cina dan Forum Ilmu Perberasan di Hangzhou yang berlangsung tanggal 10-12 Oktober 2005 yang lalu.

Pertemuan itu memfokuskan pembahasan pada empat persoalan prioritas yang dihadapi produksi beras Cina dalam jangka waktu lima tahun ke depan yaitu: pemuliaan dan pengembangkan padi generasi baru yang disebut padi “super” atau varitas padi berproduksi tinggi, berkualitas tinggi; asupan terutama pupuk yang lebih efisien; kualitas dan nutrisi beras menggunakan bioteknologi; dan pengembangan teknologi padi yang lebih efisien dalam menggunakan air.

“Produksi beras di Cina menghadapi sejumlah tantangan, khususnya bagaimana menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ketersediaan sumber daya dan kebutuhan terus meningkatkan produksi untuk memenuhi permintaan,” kata Ren Wang, Wakil Direktur Jenderal di IRRI.

(Disarikan dr Pustakatani ‘ 05 ; TIM IFA Des 05)

January 9, 2006 at 3:15 am Leave a comment

Older Posts


Categories

  • Blogroll

  • Feeds


    Follow

    Get every new post delivered to your Inbox.