Pertanian Organik di Bantul

January 5, 2006 at 8:03 am 1 comment

padi11.GIF

Dalam Upaya Menyelamatkan Tanah yang ada di Daerah Bantul, Dusun Paten, Sumberagung, Jetis. Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Provinsi D.I. Yogyakarta
baru-baru ini, Kamis (24/12). Sebanyak 48 varietas benih padi lokal dan nonlokal organik.

Benih padi organik ini nantinya akan disebarkan kepada para petani di seluruh Indonesia. Ini diharapkan membuka jalan menuju pertanian organik nasional tahun 2010.

Penangkaran benih padi dilaksanakan petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Pemandu, bekerja sama dengan sejumlah mahasiswa di Komunitas Belajar dan Pemberdayaan Masyarakat (KBPM) Restoe Boemi.

Penangkaran benih padi organik ini, menurut Murjiyo (60), Ketua Paguyuban Petani Pemandu, merupakan upaya menyelamatkan tanah dari kerusakan setelah puluhan tahun ditanami padi dengan pupuk dan pembasmi hama anorganik atau kimia. ”Ini bagian dari usaha penyelamatan Bumi supaya kami bisa tetap mewariskan tanah yang bagus bagi anak dan cucu,” tuturnya.

Benih padi yang ditangkar adalah hasil pencarian para petani selama tiga tahun di berbagai daerah. Benih yang ditangkar antara lain rojolele, rening, dusel, andelabang, andelrantai, sampangantal, dan mayangsari (berasal dari Jawa Tengah dan DIY); ciredeg, cipendeui, dan kemenyan (Jawa Barat); lampung kuning (Lampung); anak daro (Sumatera Barat), jasmine (lokal Thailand).

Setiap hektar lahan yang ditanami 35 kilogram benih nanti akan menghasilkan 4,8 ton hingga 5,8 ton gabah organik. Jika pengembangan padi organik terus meluas, menurut Murjiyo, pencanangan pertanian organik tahun 2010 dapat dicapai.

Pengembangan padi organik ini, lanjut Murjiyo, menumbuhkan kesadaran di kalangan petani untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang seharusnya, yaitu hak menentukan nilai jual gabah sesuai dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.

Meski saat ini harga beras organik semakin mahal seiring kenaikan harga bahan bakar minyak, konsumen ternyata tidak berkurang. ”Harga beras rojolele sudah naik, dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram. Namun, konsumen menerima kenaikan harga ini dan tetap mengonsumsi beras organik,” ujarnya.

Di wilayah Bantul setidaknya terdapat 100 hektar lahan yang ditanami padi organik. Sebagian besar lahan masih ditanami padi anorganik dan sebagian kecil lainnya semiorganik.

Ahmad Shovie, Koordinator Restoe Boemi, mengatakan, dari pengembangan varietas padi lokal ini diharapkan akan diperoleh benih-benih baru berkualitas, yang bisa dihasilkan sendiri oleh petani. (diambil dari SitusHijau ) Penulis (Tim News IFA,Des 05)

Entry filed under: Tanaman Pangan. Tags: .

Petani Jangan Jadi Korban Kebijakan Wortel, Penjernih Mata dan Pemutih Kulit

1 Comment Add your own

  • 1. agus riyadi  |  February 1, 2010 at 1:20 pm

    makasih pak, setelah q baca tulisan ni q juga kan coba memulai tuk bertani organik.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

January 2006
M T W T F S S
« Dec   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: