Mentan : Program Akselerasi bisa wujudkan swasembada gula 2009

July 31, 2006 at 3:52 am Leave a comment

Menteri Pertanian (Mentan) Anton Apriantono mengatakan, swasembada gula bisa dicapai Indonesia pada tahun 2009 bila program-program akselerasi di tingkat petani tebu bisa berjalan dengan baik, termasuk merevitalisasi pabrik-pabrik gula.”Kalau (program) ini dilakukan semua, Insya Allah saya yakin dengan investasi baru yang masuk maka swasembada gula bisa tercapai (tahun 2009). Tahun 2008 kita masih sekian persen perlu impor, tapi 2009 sudah tidak perlu mengimpor lagi,” katanya kepada pers usai menutup Musyawarah Nasional (Munas) II Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) di Ciawi Kabupaten Bogor, Jumat sore.

Ia mengatakan, upaya-upaya untuk dapat menuju swasembada gula itu antara lain, pertama: program akselerasi di tingkat petani terus dijalankan, karena kuncinya adalah menyediakan modal bagi petani. “Masalahnya hanya tinggal petani itu memerlukan modal, di samping juga bibit unggul, ini yang akan kita sediakan dari pemerintah dan sekarang sudah terbukti dan bahkan bisa dikatakan produksi petani melimpah dan justru pabrik gula keteteran,” katanya.

Akibatnya, banyak produksi tebu tidak tertampung oleh pabrik gula. “Saya tadi sudah mendapat laporan ada beberapa pabrik gula yang masih harus menjalani giling, mesti seharusnya giling sudah lewat,” katanya. Program kedua, kata Mentan, adalah revitalisasi pabrik gula itu sendiri, dan apabila hal itu kurang berhasil maka terpaksa harus mendirikan pabrik gula baru.

“Nah, yang terpenting dari itu semua adalah mesti ada investasi baru, dalam rangka itulah kemudian akan dilakukan studi kelayakan, dan ini kerjasama antara pemerintah RI dan RRC,” katanya. Studi kelayakan itu, katanya, adalah untuk mengetahui di lokasi-lokasi mana saja di Indonesia yang layak untuk dibangun industri gula yang baru termasuk perkebunannya. “Dengan upaya-upaya inilah, maka swasembada gula akan bisa dicapai,” katanya.

Ketika ditanya mengenai masih adanya kendala-kendala yang dihadapi petani tebu mengenai problem kelangkaan pupuk, ia mengatakan bahwa soal tersebut akan mendapat penanganan tersendiri. “Untuk masalah pupuk, nanti akan kita selesaikan sendiri,” katanya. Menurut dia, kelangkaan pupuk itu memang diakui selalu terjadi, namun ada masalah-masalah yang melingkupinya sehingga terjadi kondisi kelangkaan itu.”Tadi (dalam Munas I APTRI) saya jelaskan masalah-masalah (kelangkaan) yang terjadi pada pupuk,” katanya.

Diantaranya, kata dia, karena memang ada yang menyelundupkan keluar negeri, ada yang menggunakan pupuk bersubsidi untuk perkebunan besar yang bukan seharusnya, dan ada pula kesalahan di dalam memakai pupuk, misalya saja penggunaan yang berlebih atau seperti jenis pupuk SP-36 yang sebetulnya tidak diperlukan untuk padi, tapi justru digunakan.

Sementara itu, saat ditanya mengenai apakah jika swasembada gula bisa dicapai pada tahun 2009 berarti sama sekali tidak akan ada lagi impor gula, Mentan menegaskan bahwa swasembada itu bukan berarti tidak ada impor sama sekali. “Dari definisi swasembada sebetulnya, katakanlah kalau ada ketergantungan 10 persen dari luar negeri, itu sudah bisa dikatakan swasembada. Tapi kita menginginkan memang tidak ada impor sama sekali dan itu Insya Allah bisa dicapai 2009,” kata Anton Apriantono.

Harga bagus
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional APTRI masa bakti 2005-2010 yang baru terpilih pada Munas II di Ciawi, yakni H Abdul Wahid, ketika ditanya apa problem yang dihadapi petani, dijelaskan bahwa kalau beberapa tahun lalu, problem yang dihadapi menyangkut harga gula, pupuk, rendemen dan menyangkut bahan baku.

“Namun, dalam dua tahun terakhir ini sudah terbentuk harga gula yang cukup baik setelah lahirnya SK Mentan Nomor 643, dimana ada batasan impor dan sekaligus harga. Ini juga akibat dampak harga internasional yang juga tinggi, sehingga yang terjadi sekarang ini harga sudah bagus,” katanya.

Diakuinya bahwa pemerintah juga sudah mengucurkan bantuan dana akselerasi yang jumlahnya Rp350 miliar, tapi baru diterima Rp170 miliar namun dampak ini sudah cukup membantu peningkatan produksi. “Katakanlah kalau tahun 2001-2002 produksi gula hanya sekitar 1,6 juta ton per tahun, pada tahun 2005 kita sudah mampu memproduksi 2,2 juta ton per tahun, ini suatu peningkatan yang baik,” katanya.

Selain itu, katanya, dengan program akselerasi juga ada peningkatan dengan varietas-varietas baru, sehingga terjadi peningkatan produktivitas, yang tidak hanya kuintal tebu tapi juga kristal gula. “Yang dulu rendemen hanya sekitar 4 dan 5 persen, sekarang ini sudah 7 dan bahkan ada yang 8 persen, dan ada satu-dua yang rendemen 9 persen,” katanya.

Kondisi tersebut, katanya, tercapai karena suatu akselerasi dan hasil dari itu dampaknya adalah mampu menghasilkan produksi gula yang bagus, sehingga justru timbul masalah yang baru dimana petani sudah siap dengan akselerasi tapi pabrik gulanya kurang siap. “Nah, kita terbentur masalah ini sehingga perlu adanya akselerasi pabrik gula oleh pemerintah,” katanya.

Menjawab pertanyaan apakah hal itu berarti harus ada pembangunan pabrik gula baru, Abdul Wahid mengatakan bahwa hal itu bisa pembangunan baru, tapi juga bisa juga peningkatan kapasitas. Ia memberi contoh, masalah seperti itu terjadi pada petani yang ada di PTPN X di Gempolkerep-Mojokerto (Jatim), Malang Selatan, dan juga yang ada di sekitar Lumajang (Jatim).”Mestinya para petani di tiga tempat itu sudah turun ke kebun untuk menanam tebu dan pupuk, tapi sekarang ini masih giling, dan diperkirakan sampai 25 Desember 2005 baru selesai, ini kan sudah tidak efektif,” katanya.

“Kalau dampak dan situasi ini tidak ada solusinya untuk peningkatan kapasitas dan tambahan pabrik gula baru lagi, maka tahun 2006 saya khawatir giling nanti akan sampai Januari, ini kan sudah tidak benar,” tambahnya. Oleh karena itu, kata dia, dari sisi Deptan sudah berupaya dengan bantuan dana akselerasi, sehingga dari Kantor Meneg BUMN seharusnya sudah menyiapkan untuk revitalisasi pabrik gula.

Abdul Wahid menjelaskan, jumlah petani tebu di Indonesia efektifnya saat ini berjumlah 2 juta orang, namun bila ditambah dengan keluarganya mencapai 8 juta orang.  Sementara itu, kebutuhan gula nasional berjumlah 3,4 juta ton per tahun, dimana yang 700 ribu ton adalah untuk kebutuhan industri (gula rafinasi), sedangkan yang bisa diproduksi di dalam negeri sebanyak 2,2 juta ton, sehingga sisanya yang 500 ribu ton masih harus diimpor.

Entry filed under: Tanaman Perkebunan. Tags: .

Cina Fokuskan Penelitiannya terhadap Kualitas dan Nutrisi Tanaman Padi Sawah yang kekeringan akan mendapat kompensasi kerugian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

July 2006
M T W T F S S
« Jan   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: